Sejarah Agama Buddha, Agama Minoritas di Indonesia

Buddhisme adalah kepercayaan yang didirikan oleh Siddhartha Gautama (“Sang Buddha”) lebih dari 2.500 tahun yang lalu di India. Dengan sekitar 470 juta pengikut, para sarjana menganggap Buddhisme sebagai salah satu agama utama dunia.

Praktiknya secara historis paling menonjol di Asia Timur dan Tenggara, tetapi pengaruhnya berkembang di Barat. Banyak ide dan filosofi Buddhis yang tumpang tindih dengan keyakinan lain.

Siddhartha Gautama, pendiri agama Buddha yang kemudian dikenal sebagai “Buddha”, hidup pada abad ke-5 SM.

Gautama dilahirkan dalam keluarga kaya sebagai pangeran di Nepal saat ini. Meski hidupnya mudah, Gautama tergerak oleh penderitaan di dunia.

Dia memutuskan untuk meninggalkan gaya hidupnya yang mewah dan menanggung kemiskinan. Ketika ini tidak memenuhinya, dia mempromosikan gagasan “Jalan Tengah”, yang berarti ada di antara dua ekstrem. Dengan demikian, ia mencari kehidupan tanpa pemanjaan sosial tetapi juga tanpa kekurangan.

Setelah enam tahun mencari, umat Buddha percaya Gautama menemukan pencerahan saat bermeditasi di bawah pohon Bodhi. Dia menghabiskan sisa hidupnya mengajar orang lain tentang bagaimana mencapai keadaan spiritual ini.

Ketika Gautama meninggal sekitar 483 SM, para pengikutnya mulai mengorganisir gerakan keagamaan. Ajaran Buddha menjadi dasar bagi apa yang akan berkembang menjadi agama Buddha.

Pada abad ke-3 SM, Ashoka Agung, kaisar India Maurya, menjadikan agama Buddha sebagai agama negara India. Biara-biara Buddha dibangun, dan pekerjaan misionaris didorong.

Selama beberapa abad berikutnya, agama Buddha mulai menyebar ke luar India. Pemikiran dan filosofi umat Buddha menjadi beragam, dengan beberapa pengikut menafsirkan gagasan secara berbeda dari yang lain.

Pada abad keenam, bangsa Hun menginvasi India dan menghancurkan ratusan biara Buddha, tetapi para penyusup akhirnya diusir dari negara itu.

Islam mulai menyebar dengan cepat di wilayah tersebut selama Abad Pertengahan, memaksa agama Buddha menjadi latar belakang.

Saat ini, banyak bentuk agama Buddha ada di seluruh dunia. Tiga jenis utama yang mewakili wilayah geografis tertentu meliputi:

  • Buddhisme Theravada: Merajalela di Thailand, Sri Lanka, Kamboja, Laos, dan Burma
  • Buddhisme Mahayana: Merajalela di Cina, Jepang, Taiwan, Korea, Singapura dan Vietnam
  • Buddhisme Tibet: Menyebar di Tibet, Nepal, Mongolia, Bhutan, dan sebagian Rusia dan India utara

Masing-masing jenis ini menghormati teks-teks tertentu dan memiliki interpretasi ajaran Buddha yang sedikit berbeda. Ada juga beberapa subsekte Buddhisme, termasuk Buddhisme Zen dan Buddhisme Nirvana. Beberapa bentuk Buddhisme menggabungkan ide-ide dari agama dan filosofi lain, seperti Taoisme dan Bon.

Pengikut Buddhisme tidak mengakui dewa atau dewa tertinggi. Mereka malah berfokus pada pencapaian pencerahan—keadaan kedamaian batin dan kebijaksanaan. Ketika pengikut mencapai eselon spiritual ini, mereka dikatakan telah mengalami nirwana.

Pendiri agama, Buddha, dianggap sebagai makhluk yang luar biasa, tetapi bukan dewa. Kata Buddha berarti “tercerahkan.”

Jalan menuju pencerahan dicapai dengan memanfaatkan moralitas, meditasi, dan kebijaksanaan. Umat ​​Buddha sering bermeditasi karena mereka percaya itu membantu membangkitkan kebenaran.

Ada banyak filosofi dan interpretasi dalam agama Buddha, menjadikannya agama yang toleran dan berkembang. Seperti halnya agen slot online MOOJBET89.

Beberapa cendekiawan tidak mengakui agama Buddha sebagai agama yang terorganisir, tetapi lebih sebagai “cara hidup” atau “tradisi spiritual.”

Ajaran Buddha mendorong umatnya untuk menghindari pemanjaan diri tetapi juga penyangkalan diri.

Ajaran Buddha yang paling penting, yang dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia, sangat penting untuk memahami agama.

Umat ​​Buddha menganut konsep karma (hukum sebab akibat) dan reinkarnasi (siklus kelahiran kembali yang berkelanjutan).

Pengikut agama Buddha dapat beribadah di kuil atau di rumah mereka sendiri.

Biksu Buddha, atau biksu, mengikuti kode etik yang ketat, yang mencakup selibat.

Tidak ada simbol Buddhis tunggal, tetapi sejumlah gambar telah berevolusi yang mewakili kepercayaan Buddhis, termasuk bunga teratai, roda dharma berjari delapan, pohon Bodhi dan swastika (simbol kuno yang namanya berarti “kesejahteraan” atau “nasib baik” dalam bahasa Sansekerta).